Penulis: Kerry Dagur
Bapak
dalam penantiannya,
bapak beribu-ribu kali menjemur diri
berharap suatu hari menjemput pulang
sebuah mawar mekar beraroma
justru tiba jamur subur, muka memar,
dan anak yang lupa menghitung
dalam penantiannya,
bapak merasa pergi
tak tahu ke mana
mungkin ke ruang mimpi anaknya
(Nenuk, Atambua)
Perjamuan Pengakuan
perjamuan sore kemarin khusyuknya bukan maen: berdatangan malaikat dari pintu sebelah, berpakaian kemerahan, kepal tangan kanan meremas kabar seraya permisi mengibas debu di panggung itu. hadir penuh pasrah seisi rumah seberang beserta segumbang sesal, setetes keringat, dan secuil syukur di saku celana. dengan berani mereka berarak ke sudut, seraya leluasa mengipas gerah mengebas. aku kemudian, dengan bunyi lonceng segesit lebih selangkah. susur niat(mu) di bangku tengah.
saat ajakan pengakuan: Tuhan e, aku ini malu temu sebenarnya. separuh ini diri gagap separah tuturnya. separuhnya lagi gugup semisal disudahi. sekejap khusyuk membahagiakan malu, tunduk beban tiada menanti jamuan puncak. mengatup di antara paha lantunan perasaan dan sudah waktunya semalu aku juga disuguh makan minum.
saat perjamuan: Tuhan e, mabuk aku darah-Mu, kenyang aku tubuh-Mu.
(Kisol, Borong)
Baca juga: Cita-Cita Seorang Penulis: Kumpulan Puisi Yanuar Abdillah
Pondok Inspirasi
Selepas mengembara
kita berbagi di bawah pondok inspirasi
dekat tempat tinggal seorang ibu berkerudung
Kau memulainya demikian,
“Kira-kira aku berakhir di mana?”
Aku mengakhirinya demikian,
“Aku tidak pernah melihatmu memulai. Apalagi di mana-mana!”
(Nenuk, Atambua)
Jeritan (1)
_dari Ambriyana di seberang batas
Sebelum berangkat ke sana, Ambriyana pegang teguh ungkapan jika takdir sudah membumi biar di dalamnya aku hidup. Sudah cinta mati Ambriyana dengan takdir sebab mau apa?
Kepada kau ia menghidangkan janji-janji, mencicipinya lebih awal manisnya tidak dapat; segala harap akan terkabul, segala rejeki tiba mendadak, segala pening tiada lagi, kau pulang betul-betul mengenakan pakaian keemasan, nikmatnya menusuk cemas. Semuanya pasti.
Tiada lagi kau sederita ini; tanggung keluarga dalam kemiskinan, mengemis iba dengan air mata, melawan mati pura-pura.
Apa mau apa, semua ditelan sangka. Sangka siapa sangka, segala digebuk arus. Sudah, menjerit saja. Menjerit saja. Menjerit saja!!!
Kau menangis terbahak-bahak, suara menjadi suram nan curam, dan rindu begitu hening menanggung ributnya jeritanmu, Ambriyana.
Di hari jeritan menguncup, sekali lagi kau mengingat ungkapan jika takdir sudah membumi biar di dalamnya aku hidup. Bila kekasih janjimu memberi pudak, baiknya aku menegurmu dengan nasib seperti apa? Bila kekasih janjimu kini tertawa, harusnya aku juga tapi itu keterlaluan, bukan? Menjeritlah!!!
Kepada tawaran, ajakan, yang terlalu serius menyisikan air mata tubuh. Kepada orang-orang berbau, yang mulut dan bibirnya dibungkam. Kepada orang-orang yang belum sadar, yang dahsyat tekat gilanya, yang mati suri gagasnya, yang berisik selalu.
Menjeritlah Ambriyana. Kekasih janjimu tiada waktu mendengar apalagi merasa.
(Nenuk, Atambua)
Baca juga: Keterikatan Rasa: Kumpulan Puisi Amanda
Sekalipun
Ada yang merasa bahagia
Sekalipun bukan miliknya
Ada yang merasa sedih
Sekalipun bukan karenanya
Juga ada yang tidak merasa apa-apa
Sekalipun hadir selalu di tiap kejadian
(Ledalero, Maumere)
Editor: Kru BiSa



