Penulis: Febryan Kusumawardana
BILIK SASTRA – Pasca bubarnya Naif, David Bayu selaku mantan vokalis secara produktif menggarap beberapa karya solonya. Sejak memulai kariernya sebagai solois lagi pada tahun 2022, ia sudah merilis dua album sejauh ini. Mulai dari Di Dalam Jiwa dan yang terbaru dengan tajuk Segalanya Itu Kamu.
Menggandeng beberapa kolaborator seperti, Erikson Jayanto, Vega Antares, dan beberapa musisi lainnya, album Segalanya Itu Kamu menyuguhkan rasa nostalgia melalui perjalanan reflektif David Bayu atau pun orang-orang terdekatnya melalui delapan lagu pada album ini.
Penasaran seperti apa lagu-lagu yang ada di dalam album tersebut? Simak ulasan album Segalanya Itu Kamu.
Perjalanan pendewasaan yang unik dalam album Segalanya Itu kamu
Lagu “Segalanya Itu Kamu”
Album ini dibuka dengan lagu dengan judul yang sama dengan album ini sendiri, “Segalanya Itu Kamu”. Citra David Bayu sebagai mantan vokalis Naif tak luntur sedikit pun di lagu pembuka ini. Suaranya yang begitu khas dengan pembawaan yang hangat dan lirik yang sederhana seakan membisikkan pujian terhadap sang kekasih.
Instrumen yang mengiringi juga begitu lembut dan penuh rasa nostalgia, seakan mengingatkan pendengar kembali ke masa-masa ketika Naif masih berlaga di kancah musik Indonesia.
Lagu “Luka”
Lagu “Luka” menjadi salah satu lagu yang terdengar unik di sini. Rasanya citra David Bayu yang biasanya membawakan pop, tetiba membawakan jazz adalah hal yang unik.
Lewat lirik-liriknya, “Luka” menceritakan seseorang yang patah hati dan jatuh cinta dengan orang yang sama karena terlalu cinta. Namun, luka tersebut tak bisa sembuh dengan orang yang sama.
Alunan Jazz yang lebih sederhana sangat kental terasa di lagu ini. Tak ada permainan instrumen rumit dan susunan akornya pun juga terdengar sederhana.
Baca juga: ENDIKUP (2025): Berpulang Namun Tetap Berdendang
Lagu “Now or Never”
Jika “Luka” sudah menonjolkan sisi unik David Bayu dalam bernyanyi dengan alunan khas jazz, “Now or Never” membawa David Bayu ke arah yang lebih soft rock. Liriknya yang repetitif, tetapi mendalam. Pendekatan tersebut membuatnya sangat menyentuh dengan cara yang paling lugas, mirip dengan bagaimana The Panturas membawakan lagu “Sunshine”.
Lagu “Air dan Api”
Lagu “Air dan Api” masih menjadi magnum opus Naif selama masa jayanya. Dengan sentuhan lirik romansa khas remaja yang berselisih lucu, lagu tersebut menggambarkan betapa lucunya perselisihan konyol remaja yang tak mau mengalah.
Lagu “Tembok”
Masa remaja “Air dan Api” seakan didewasakan oleh David Bayu melalui lagu “Tembok”. “Tembok” bercerita mengenai hubungan asmara yang terhalang oleh sesuatu yang tak jelas bentuknya dan secara rela harus saling berpisah karena memahami bahwa kita bisa memaksakan cinta.
Instrumen lagu “Tembok” juga sekilas memiliki DNA yang hampir mirip dengan “Air dan Api”, bedanya hanya di energi yang terdengar. “Air dan Api” masih terdengar lebih berapi-api, sedangkan “Tembok” lebih santai. Lagu “Tembok” menunjukan bahwa cinta tak selalu bisa dipaksa.
Lagu “Taman Terindah”
Perjalanan reflektif album ini berakhir di lagu “Taman Terindah” dengan iringan instrumen yang begitu menyayat dan bubuhan lirik David Bayu yang melankolis dan lugas.
“Taman Terindah” bercerita mengenai keyakinan seseorang yang percaya bahwa cepat atau lambat ia akan kehilangan seseorang terdekatnya. Ia benar-benar percaya bahwa mereka akan bertemu lagi di taman terindah. Kumpulan sayatan instrumen pada lagu ini menjadi titik puncak yang mendalam pada album ini, rasanya begitu hangat akan rasa penerimaan.
Pembawaan David Bayu yang begitu pelan dan manis, menambahkan bumbu rasa akan keyakinan bahwa selamanya hubungan asmara akan selalu dengan orang yang dicintai entah bagaimanapun kondisinya.
Baca juga: Ghosts I-IV (2008): Melamun Juga Butuh Musik
Album Segalanya Itu Kamu repetitif namun hangan
Secara keseluruhan, Segalanya Itu Kamu adalah album yang begitu hangat, lugas, dan penuh rasa nostalgia khas Naif. Lirik-liriknya yang repetitif bisa dianggap sebagai kritik dan juga sebagai pujian,
David Bayu terasa masih di bawah bayang-bayang citranya sebagai vokalis Naif. Namun, ia juga bisa dianggap sebagai rasa nostalgia khas Naif yang menerjemahkan asmara dengan begitu sederhana.
Meskipun begitu, saya sangat menyukai karakter David Bayu yang sedikit lebih baru di lagu “Luka” dan “Now or Never”. Bagi saya, rasanya ini adalah David Bayu dengan citranya yang baru. Alunan instrumen album ini juga unik pada setiap urutan lagunya, tetap tetap masih lekat dengan nuansa Naif, begitu sederhana dan easy listening.
Akhir kata, Segalanya Itu Kamu menjadi karya David Bayu yang penuh dengan kejujuran emosional dan pendewasaan yang nostalgik tanpa harus bertele-tele dalam menyampaikan pesan-pesan reflektif dalam album ini.
Editor: Kru BiSa



