Bithaqah Huwiyah, Jati Diri Palestina di Tengah Penghapusan Identitas

puisi Bithaqah Huwiyah
Sumber: tabletmag.com

Penulis: Yessi Alma’wa

BILIK SASTRA – Karya sastra menjadi media refleksi budaya dan identitas sekaligus kritik sosial. Tidak sedikit penulis berbagi pengalaman hidup dan pandangannya melalui karyanya, seperti puisi.

Salah satu karya puisi yang mencerminkan kehidupan adalah puisi Bithaqah Huwiyah karya Mahmoud Darwish. Puisi ini menjadi sarana memperkuat identitas bangsa Palestina di tengah konflik penghapusan identitas. 

Konflik Palestina dan Israel yang tak kunjung menemukan titik damai menjadikan puisi Darwish sebagai sarana perjuangan warga Palestina dalam mempertahankan identitasnya. Hanya saja, seperti apa peran puisi Bithaqah Huwiyah? Simak selengkapnya berikut ini.

Konflik Palestina dan Israel tak kunjung selesai

Di tengah harapan akan perdamaian global, perang harusnya hanya sebatas lembaran kelam yang harus ditinggalkan. Namun kontradiktifnya, ketika sebagian negara menari dalam geliat pembangunan yang lebih maju dan damai, masih saja terdengar suara dentuman senjata, ledakan, hingga ratapan dari saudara-saudari kita. Mereka masih terjebak dalam bara konflik perang yang berkepanjangan di berbagai penjuru. 

Salah satu konflik perang yang kian menganga dan terpatri adalah konflik Palestina dan Israel. Puluhan tahun telah bergulir dan membentang tidak terselesaikan, hingga menyayat hati nurani dunia. 

Dalam situasi ini, pertanyaan mendasar kembali muncul untuk apa upaya politik seperti meja perundingan terlaksana? Apakah kesepakatan tidak berarti apa-apa? Kegiatan diplomasi seolah hanya alat penenang sesaat seperti riak air yang menipu, tanpa benar-benar menyentuh akar penderitaan yang masih berbelit. 

Janji dan solusi dari berbagai lembaga internasional untuk Palestina dan Israel hanya menjanjikan sebuah harapan. Namun, hal ini kerap saja berakhir dengan mengecewakan. Seperti perjanjian perdamaian tak jarang diingkari hingga kekerasan dan penindasan di tengah perjuangan politik. 

Sudah terjadi sejak Perang Dunia Pertama

Secara historis, konflik Palestina dan Israel terjadi pada saat Inggris menguasai wilayah Palestina usai menumbangkan kesultanan Ottoman saat Perang Dunia Pertama. Tepatnya bermula dari Deklarasi Balfour, yaitu kesepakatan antara Menteri Luar Negeri Inggris dengan Arthur Balfour dan komunitas Yahudi di Inggris. Inggris menjanjikan pendirian negara Yahudi di wilayah Palestina. 

Komunitas Yahudi di Inggris menganggap Palestina sebagai tanah asal para pendahulu mereka. Namun, orang-orang Arab di Palestina menentang keras mengenai pengakuan tersebut. Kemudian selama mandat Inggris, komunitas Yahudi melakukan migrasi ke Palestina. Ini memicu perlawanan orang-orang Arab yang mendapat penindasan secara brutal oleh Inggris. 

Kondisi tersebut pun memicu peristiwa eksodus dan penghancuran ratusan desa di Palestina. Bahkan aksi pembunuhan dan pembantaian para penduduk tak terelakkan. Pada akhirnya, penduduk Palestina kehilangan tempat tinggalnya dan mengungsi ke negara-negara Arab lainya. 

Karya sastra hadir sebagai pelipur lara

Melalui sejarah konflik Palestina dan Israel, rakyat Palestina telah banyak menghadapi berbagai kekerasan, pengusiran, hingga penghapusan identitas. Di balik suara tangis mereka, muncul pula suara yang tak kalah nyaring. Suara-suara kelahiran sebuah narasi perlawanan dalam wujud tulisan, namun mendalam. 

Sebuah wadah baru yang dikemas di dalam sebuah karya sastra. Melalui karya sastra, penderitaan, identitas terinjak, semangat dan siklus kehidupan diabadikan dan disuarakan melampaui batas waktu dan generasi.

Salah satu karya sastra yang menonjol adalah puisi Bithaqah Huwiyah atau Kartu Identitas karya Mahmoud Darwish. Ia merupakan seorang penyair yang dikenal sebagai suara dari perjuangan Palestina. Lahir pada tahun 1941 di desa al-Birwa Galilea, Darwish mengalami langsung peristiwa Nakba di tahun 1948. 

Pengalaman hidupnya membentuk fondasi yang kuat bagi karya-karyanya. Dari hidup di pengasingan, jiwa Darwish begitu terikat pada tanah kelahiran Palestina. Puisi-puisi Darwish adalah saksi bentuk perjuangan dan pengingat akan eksistensi yang terus-menerus mengecam Palestina. 

Bithaqah Huwiyah bukan hanya sekedar puisi, tetapi simbol perlawanan kultural dan spiritual dari jutaan orang-orang Arab di tepi barat dan seluruh dunia. Mereka menyuarakan esensi dari perjuangan identitas seseorang dipertanyakan dan diperangi.

Baca juga: Monolog Panggung Ajaib, Cerminan Kehidupan Sosial Anak

Puisi Bithaqah Huwiyah tegaskan identitas rakyat Palestina

Puisi Bithaqah Huwiyah karya Darwish lebih dari rekaan imajinasi belaka. Karya ini memiliki keterikatan kuat dengan pengalaman pribadinya dan kondisi politik pada era 1960-an. Bithaqah Huwiyah merupakan sebuah karya ikonik tentang penolakan tegas terhadap narasi Israel yang berupaya menghapus keberadaan rakyat Palestina. 

Puisi tersebut adalah sebuah pernyataan publik. Setiap baitnya berisi sebuah pukulan telak terhadap settler colonialism yang terjadi di Palestina sekarang. Settler colonialism atau kolonialisme pemukim berbicara tentang “menghilangkan semua elemen masyarakat adat.” 

Israel sebagai pemukiman pendatang, berusaha mengganti penduduk asli dengan menciptakan sebuah narasi baru. Mereka berupaya membenarkan klaim atas tanah Palestina. Namun, Darwish menolak penghapusan ini melalui puisi Bithaqah Huwiyah.

Kartu Identitas

Catat!

Aku orang Arab

Dan nomor kartu identitasku lima puluh ribu

Aku punya delapan anak

Dan yang kesembilan akan lahir setelah musim panas

Apa kau akan marah?

Catat!

Aku orang Arab

Bekerja dengan sesamaku di sebuah tambang batu

Aku punya delapan anak

Aku beri mereka roti

Pakaian dan buku

dari batu …

Aku tidak mengemis bantuan dengan mengetuk pintu rumahmu

Atau merendahkan diriku di tangga kamarmu

Jadi apa kau akan marah?

Catat!

Aku orang Arab

Namaku tanpa gelar

Bersabar di negeri

Yang penuh orang-orang marah

Akarku

Tertanam di sini sebelum lahirnya waktu

Dan sebelum dimulainya zaman

Sebelum pohon-pohon pinus dan pohon-pohon zaitun

Dan sebelum rumput-rumput tumbuh.

Bapakku… keturunan keluarga pembajak tanah

Bukan dari kelas priyayi

Dan kakekku… seorang petani

Bukan orang kaya ataupun orang sekolahan!

Diajarkannya aku tentang harga diri matahari

Sebelum mengajariku membaca

Dan rumahku seperti gubuk penjaga malam

Terbuat dari ranting pohon dan tebu

Apa kau sudah puas dengan statusku sekarang?

Aku punya nama tanpa gelar!

Catat!

Aku orang Arab

Telah kau curi kebun-kebun buah nenek moyangku

Dan tanah yang kugarap

Bersama anak-anakku

Dan tak ada lagi sisa bagi kami

Kecuali batu-batu ini…

Apa negara pun akan mengambilnya juga

Seperti kata orang?!

Jadi

Catat di bagian atas halaman pertama:

Aku tidak benci

Atau akan menyerang orang

Tapi kalau aku kelaparan

Daging penindasku akan jadi makananku

Hati-hatilah…

Hati-hatilah…

Dengan lapar

Dan marahku!

1964

Dikutip dari “6 Puisi Mahmoud Darwish diterjemahkan oleh Saut Situmorang” oleh S. Situmorang, 2021, sautsitumorang (wordpress.com).

Baca juga: ENDIKUP (2025): Berpulang Namun Tetap Berdendang

Menciptakan eksistensi, lawan upaya dehumanisasi

“aku orang Arab”

Salah satu larik tersebut adalah sebuah ungkapan cerdas dalam melawan upaya dari dehumanisasi dengan menyebutkan detail personal mengenai identitas. Darwish menegaskan rakyat palestina adalah individu, bukan sekedar keberadaan yang bisa dihapus. 

Puisi karya Darwish juga berupaya menciptakan eksistensi. Ia mentransformasi kata-kata sederhana menjadi pernyataan monumental tentang keberadaan. Kita semua tahu Donald Trump dan Benjamin Netanyahu membahas tentang “relokasi sukarela”. Hal ini sebenarnya adalah sebuah rencana dari pemusnahan etnis untuk penduduk Palestina. 

Namun, keberadaan puisi Bithaqah Huwiyah mengingatkan ada kekuatan yang lebih besar dari kekuasaan politik dan militer yakni kekuasaan identitas serta sejarah. Selama puisi ini masih bergema dari generasi ke generasi, rakyat Palestina tidak akan pernah bisa sepenuhnya dihapus. 

Meskipun tanah bisa diambil, rumah dihancurkan, dan orang-orang dapat dibunuh, namun deklarasi identitas adalah sesuatu yang tidak bisa siapa pun musnahkan dengan bom atau buldoser. 

Pada hakikatnya, Bithaqah Huwiyah berfokus pada pertempuran spiritual dan budaya. Karya ini menjadi sebuah pedang dengan kata-kata sebagai amunisinya. Bithaqah Huwiyah mengajarkan perlawanan sejati bermula dari hati dan pikiran, serta warisan budaya adalah banteng abadi yang tak bisa terkalahkan.

Editor: Kru BiSa

Sobat BiSa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *