Penulis: Zikri Amanda Hidayat
Kaca Akuarium
:Annafi
Perdu tubuh yang anggun
Di puncak sisi atas wajah gulali
Dua daun penyambut macam suara
Terbalut lembut oleh tirai kerudung
Telah menyatu padu sepasang gagang
Bertahun-tahun membawa keindahan
Bahwa di balik kaca akuarium bening itu
Hidup ikan kembar bundar penyimpan cahaya
Sejenak waktu melepas pandang kagum
Tanpa aba-aba—
Menyusup bak mantra di laut kepala
Hingga ke hijau dasar jantung
Menawan renang degup
Dan mengundang pusaran air duga-duga
Lalu berakhir di labirin terumbu karang;
jatuh suka
Padang, 2026
Kita Adalah (Retak Dinding & Baju Hangat)
Kita adalah dua hati yang membawa retak sudut dinding rumah
Menganga jalan bagi barisan semut nestapa
Aku menyimpan jaring laba-laba harapan di kolong meja dada
Berharap seseorang membersihkannya dengan sapu saying
Sementara engkau gorden terikat tali rapia
Hanya angin sepoi-sepoi menyibak gerak seadanya
Terkunci tubuh tak dapat ke mana-mana
Saat embun kaca jendela mimpi mengendap
Engkau kerap menggambar senyum lebar
Penanda: pintu ini menunggu selalu kedatangan siapa pun
Kita adalah baju hangat yang terdampar di tempat berbeda
Aku di paku ruang tengah
Engkau tergeletak di kursi ruang tamu
Dan menunggu takdir memutar musim dingin
Lalu orang rumah bergegas mengenakanku
Berkelana di luar menyaksikan kehangatan lain
Sebelum bersatu di kursi yang sama
Meninggalkan kita menjadi barang pengindah waktu
Hingga musim panas datang
Lantas kita memiliki penggantung baju
Merayakan kebahagiaan sunyi yang panjang
Dalam dekap lemari tanpa kekhawatiran
Padang, 2026
Baca juga: Hari Terbaik Untukmu : Kumpulan Puisi Amanda
Mengambang
Aku memandang lekat jingga rona pipi
Bulan sabit merah jambu bening bias cahaya
Mencegat sampan hatiku berlayar di laut bundar sepasang itu
Terlena membaca angin barat retina
Lalu terombang-ambing pada gelombang kedip mata
Rupanya aku masih belum terampil mendayung
Hingga karam sebatang tubuh rasa
Menjadi benda mati berlumut rindu
Dan paus-paus gigimu menggema suara
Yang tak pernah sampai ke telinga ingatanku
Demikianlah hikayat rayu nelayan tualang
Hanya tinggal nama palang: mengambang
Padang, 2026
Pandang
Wahai penakluk hati
Lengkung merah jambu penyimpan gigi
Telah menyesatkanku pada sabana belantara rona dadu
Di ujung barat wajahmu,
Fatamorgana bening bundar telaga kembar
Berdiri manis pohon-pohon ketapang di tubirnya
Tempat angin tualang memilih berhenti sejenak
Lalu aku akan menjadi paling beruntung
Bahwa menemukan suaka mengubur diri
Dan mati dalam keindahan yang nyata
Di sana, rindu mendulang siasat cinta–
Berkali-kali
Untuk bahana: selamanya
Padang, 2026
Melihat ke Dalam
Hidup terus melebarkan lengannya kepada waktu
Menemui berbagai gelombang lautan; dalam, penuh rahasia
Di kursi nasib aku melihat siapa yang bukan aku
Menanti badai pulang menuju negeri empat mata angin
Kata-kata telah terpenjara oleh pikiran
Mematikan sekring lampu
Aku enggan menyaksikan senja
Meraba gelap untuk menemukan wajah tawa
Apa yang terenggut sebelum risau pisau memahami kilat kilau kulit buah apel?
Meski tahu hanya cerita legenda nenek sihir
Kecupan sepi selalu punya cara membangunkan jiwa yang tersesat di hutan
Padang, 2026
Buku Teka-Teki Silang
Di ruang takdir
Di tengah rak-rak buku waktu
Aku melihat satu buku pada meja warna warni Pelangi
Bercahaya bening karena lampu belajar
Sunyi lebih tenang terasa
Tiada suara gaduh hidup—riuh
Judul font tebal dan huruf kapital:
“PEREMPUAN PURNAMA“
Tapi tiga kata di atasnya huruf kecil bold italic:
“teka-teki silang“
Aku beranikan diri membuka halaman pertama
Betapa menakjubkan dengan segala labirin kotak hitam putih
Mengasah peka jawaban gelombang pikiran
Terombang-ambing, memahami biru laut bahasamu
Engkau adalah semesta yang menyimpan ragam musim frasa
Hingga aku butuh pena permanen konsisten saban hari
Agar suatu saat engkau digerus jamur waktu
Meninggalkan corak kecokelatan badai, mendung kelabu, gerimis bahkan hujan lebat
Aku selalu ingin memilikimu dalam peluk empati
Menjaga tetap hangat jauh dari kelembapan suhu prahara
Mengindahkan usia kuningmu di antara keras kerang kepala
Dan menyadari, di sini, aku mencintaimu
Sungguh tiada buku lain meski sampul kekinian
Bagiku, engkau wujud cantik tradisional paling menyenangkan
Padang, 2026
Baca juga: Cahaya : Kumpulan Puisi M Khudloifi Ghifrillah
Purnama Bercincin Saturnus
: Ivi
Aku menyaksikan hujan badai pagi hari
Seketika mataku tak mengenali kantuk
Seperti bawang merah meraba bola mata
Kilau laut kentara menggali senja
Tertinggal di atas jendela belakang rumah
Kepak sayapmu telah mengatup di tenda megah
Pintu waktu retak usai pisau detak memotong lidah
Gagap mengeja langkah yang dingin keramik ruang tamu
Apa yang kau buang di laut itu menjadi bangkai
Terapung kaku hingga kapal takdir mengelak hinder
Lalu sore tergeletak di beranda
Tiada membawa apa pun selain mendung nyeri
Tapi matahari lupa cara bersembunyi
Hanya ombak teriak sepi
Sembari menelan ikan-ikan mati
Tidur minggat dari rumah
Pergi ke kota memungut serpihan purnama
Suara terompet memenuhi kepala
Seperti pasar malam menyimpan motor gila
Bintang-bintang berkedip mencari domba-domba awan
Upaya melepas jerat tali terikat pada pohon beringin
Sebelum terlentang pudar warna
Terlompang sesak napas
Padang, 2026
Editor: Kru BiSa



