Buku Teka-Teki Silang : Kumpulan Puisi Zikri Amanda

puisi buku teka teki silang
Sumber: unsplash.com/Andrey Soldatov

Penulis: Zikri Amanda Hidayat

Kaca Akuarium

:Annafi

Perdu tubuh yang anggun

Di puncak sisi atas wajah gulali

Dua daun penyambut macam suara

Terbalut lembut oleh tirai kerudung

Telah menyatu padu sepasang gagang

Bertahun-tahun membawa keindahan

Bahwa di balik kaca akuarium bening itu

Hidup ikan kembar bundar penyimpan cahaya

Sejenak waktu melepas pandang kagum

Tanpa aba-aba—

Menyusup bak mantra di laut kepala

Hingga ke hijau dasar jantung

Menawan renang degup

Dan mengundang pusaran air duga-duga

Lalu berakhir di labirin terumbu karang;

jatuh suka

Padang, 2026

Kita Adalah (Retak Dinding & Baju Hangat)

Kita adalah dua hati yang membawa retak sudut dinding rumah

Menganga jalan bagi barisan semut nestapa

Aku menyimpan jaring laba-laba harapan di kolong meja dada

Berharap seseorang membersihkannya dengan sapu saying

Sementara engkau gorden terikat tali rapia

Hanya angin sepoi-sepoi menyibak gerak seadanya

Terkunci tubuh tak dapat ke mana-mana

Saat embun kaca jendela mimpi mengendap

Engkau kerap menggambar senyum lebar

Penanda: pintu ini menunggu selalu kedatangan siapa pun

Kita adalah baju hangat yang terdampar di tempat berbeda

Aku di paku ruang tengah

Engkau tergeletak di kursi ruang tamu

Dan menunggu takdir memutar musim dingin

Lalu orang rumah bergegas mengenakanku

Berkelana di luar menyaksikan kehangatan lain

Sebelum bersatu di kursi yang sama

Meninggalkan kita menjadi barang pengindah waktu

Hingga musim panas datang

Lantas kita memiliki penggantung baju

Merayakan kebahagiaan sunyi yang panjang

Dalam dekap lemari tanpa kekhawatiran

Padang, 2026

Baca juga: Hari Terbaik Untukmu : Kumpulan Puisi Amanda

Mengambang

Aku memandang lekat jingga rona pipi

Bulan sabit merah jambu bening bias cahaya

Mencegat sampan hatiku berlayar di laut bundar sepasang itu

Terlena membaca angin barat retina

Lalu terombang-ambing pada gelombang kedip mata

Rupanya aku masih belum terampil mendayung

Hingga karam sebatang tubuh rasa

Menjadi benda mati berlumut rindu

Dan paus-paus gigimu menggema suara

Yang tak pernah sampai ke telinga ingatanku

Demikianlah hikayat rayu nelayan tualang

Hanya tinggal nama palang: mengambang

Padang, 2026

Pandang

Wahai penakluk hati

Lengkung merah jambu penyimpan gigi

Telah menyesatkanku pada sabana belantara rona dadu

Di ujung barat wajahmu,

Fatamorgana bening bundar telaga kembar

Berdiri manis pohon-pohon ketapang di tubirnya

Tempat angin tualang memilih berhenti sejenak

Lalu aku akan menjadi paling beruntung

Bahwa menemukan suaka mengubur diri

Dan mati dalam keindahan yang nyata

Di sana, rindu mendulang siasat cinta–

Berkali-kali

Untuk bahana: selamanya

Padang, 2026

Melihat ke Dalam

Hidup terus melebarkan lengannya kepada waktu

Menemui berbagai gelombang lautan; dalam, penuh rahasia

Di kursi nasib aku melihat siapa yang bukan aku

Menanti badai pulang menuju negeri empat mata angin

Kata-kata telah terpenjara oleh pikiran

Mematikan sekring lampu

Aku enggan menyaksikan senja

Meraba gelap untuk menemukan wajah tawa

Apa yang terenggut sebelum risau pisau memahami kilat kilau kulit buah apel?

Meski tahu hanya cerita legenda nenek sihir

Kecupan sepi selalu punya cara membangunkan jiwa yang tersesat di hutan

Padang, 2026

Buku Teka-Teki Silang

Di ruang takdir

Di tengah rak-rak buku waktu

Aku melihat satu buku pada meja warna warni Pelangi

Bercahaya bening karena lampu belajar

Sunyi lebih tenang terasa

Tiada suara gaduh hidup—riuh

Judul font tebal dan huruf kapital: 

PEREMPUAN PURNAMA

Tapi tiga kata di atasnya huruf kecil bold italic:

teka-teki silang

Aku beranikan diri membuka halaman pertama

Betapa menakjubkan dengan segala labirin kotak hitam putih

Mengasah peka jawaban gelombang pikiran

Terombang-ambing, memahami biru laut bahasamu

Engkau adalah semesta yang menyimpan ragam musim frasa

Hingga aku butuh pena permanen konsisten saban hari

Agar suatu saat engkau digerus jamur waktu

Meninggalkan corak kecokelatan badai, mendung kelabu, gerimis bahkan hujan lebat

Aku selalu ingin memilikimu dalam peluk empati

Menjaga tetap hangat jauh dari kelembapan suhu prahara

Mengindahkan usia kuningmu di antara keras kerang kepala

Dan menyadari, di sini, aku mencintaimu

Sungguh tiada buku lain meski sampul kekinian

Bagiku, engkau wujud cantik tradisional paling menyenangkan

Padang, 2026

Baca juga: Cahaya : Kumpulan Puisi M Khudloifi Ghifrillah

Purnama Bercincin Saturnus

: Ivi

Aku menyaksikan hujan badai pagi hari

Seketika mataku tak mengenali kantuk 

Seperti bawang merah meraba bola mata

Kilau laut kentara menggali senja

Tertinggal di atas jendela belakang rumah

Kepak sayapmu telah mengatup di tenda megah

Pintu waktu retak usai pisau detak memotong lidah

Gagap mengeja langkah yang dingin keramik ruang tamu

Apa yang kau buang di laut itu menjadi bangkai

Terapung kaku hingga kapal takdir mengelak hinder

Lalu sore tergeletak di beranda

Tiada membawa apa pun selain mendung nyeri

Tapi matahari lupa cara bersembunyi

Hanya ombak teriak sepi

Sembari menelan ikan-ikan mati

Tidur minggat dari rumah

Pergi ke kota memungut serpihan purnama

Suara terompet memenuhi kepala

Seperti pasar malam menyimpan motor gila

Bintang-bintang berkedip mencari domba-domba awan

Upaya melepas jerat tali terikat pada pohon beringin

Sebelum terlentang pudar warna

Terlompang sesak napas

Padang, 2026

Editor: Kru BiSa

Sobat BiSa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *