Sesi Terapi untuk Sebuah Dongeng

Sesi terapi untuk sebuah dongeng
Sumber: canva.com

 Penulis: May Wagiman

“Aku stres, Dokter.” Perempuan muda itu mengeluh sambil terisak. Butiran air mata meninggalkan jejak hitam di sepanjang pipi tirusnya. Lembar demi lembar tisu ditarik dari kotak kecil di atas meja. Gumpalan tisu–bagaikan spons cuci piring–menyerap cepat campuran air mata dan maskara.     

Psikolog wanita itu mengangguk-angguk, tetapi dalam hatinya gemas sendiri, jangan dikucek-kucek. Sekitar mata jadi hitam, tuh. Ia berusaha keras menghilangkan bayangan seekor panda menangis dari dalam kepala. “Kali ini bagaimana, Mbak?” 

Sang pasien merebahkan tubuh dengan hati-hati di sofa. Sandaran beludru mengelus lembut punggungnya. Kedua kaki tak beralas terjulur lepas. Tangan kanan perlahan memindahkan rambut panjangnya ke sisi bahu.

Dokter–dengan buku catatan di pangkuan–memperhatikan dengan kesabaran yang sudah terlatih. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia mendengarkan dengan saksama curahan hati pasiennya. Detail sangat penting, ia selalu mengingatkan diri sendiri. Hal-hal yang berada di bawah alam sadar, dalam kondisi tenang, dapat mengalir bebas. 

Pasiennya menarik napas sejenak. Keseluruhan tubuhnya jauh lebih rileks sekarang, meskipun kedua tangan masih terus berkutat dengan lembaran tisu. 

“Aku selalu jadi sasaran,”

“Sasaran bagaimana, Mbak?” 

“Jadi objek kritik. Sedikit-sedikit disalahkan. Dibilang bodoh,”

Psikolog itu diam mendengarkan sembari tangannya sibuk mencatat. 

Sang pasien kali ini menghela napas penat. Matanya yang menatap langit-langit sekarang mengamati–entah untuk yang ke berapa kalinya–ruangan berpulas warna lembut. Warna yang selalu mengingatkannya dengan rona langit cerah. Perabot di sekitarnya sangat minimalis. Hanya sofa panjang, meja kecil, serta kursi dokter. Pot-pot tanaman dan dua lukisan berbingkai putih terlihat bercahaya tertimpa sinar matahari pagi. Berbaring di dalam ruang konsultasi itu membuat kekesalan hatinya sedikit terobati. 

Sekilas ia menengok ke samping, memandang diam-diam psikolog cantik yang masih sibuk mencatat. Cara dokter berpakaian simpel, tapi menarik. Bajuku seabrek, tapi seperti orang yang enggak punya baju. Mau ke pasar swalayan saja perlu waktu dua jam, komentarnya dalam hati. 

Gaya rambut dokter yang sekarang lebih cocok, pujinya. Dokter ini punya empati. Cara bicara ramah. Pendengar yang baik pula. Beda banget dengan psikiater aneh itu.

Pikirannya sekarang melayang pada pertemuan pertama dengan Dokter Surya. Nama itu sampai sekarang masih tertato di pojok ingatannya. Tanpa sadar ia mendengus sendiri, menyesal memulai terapi di sana. Klinik elite yang sama sekali enggak elite. Murahan. Kedongkolan muncul dalam hati.

Baca juga: Buku Teka-Teki Silang : Kumpulan Puisi Zikri Amanda

Klinik mewah itu masih terbayang jelas. Seorang perawat menyambut ramah sebelum menyodorkan daftar pertanyaan untuk memulai konsultasi. Ia menjawab semua sejujurnya tanpa ada yang ditutupi. 

Namun, nada suara sang psikiater tak hanya memicu keluarnya semua koleksi kosakata kasar yang ia tahu, namun juga membuat semangatnya bak bunga layu yang nyaris mati. 

“Oh, karena ini, toh,” komentar dokter Surya dengan ringannya sambil melihat catatan di tangan. 

Wajahnya seakan berkata, masa begini saja jadi trauma, Mbak. Raut wajah menyebalkan yang langsung membuat perempuan muda itu panas dingin karena gengsi. Sepuluh menit pertama di ruang konsultasi itu malah menaikkan penderitaannya menjadi puluhan kali lipat.

“Masalah seperti ini biasa ada dalam keluarga. Bukan cuma Mbak saja yang mengalami hal seperti ini. Mbak mungkin terlalu mengambil hati. Betul, begitu?” 

“Atau, mungkin Mbak yang gengsi? Terlalu tinggi hati untuk dimintai tolong. Banyak, lo, yang enggak punya keluarga lagi. Meskipun keluarga tiri, ada baiknya kalau kita bersyukur.”

Perempuan muda itu menunduk. Lah, kok, jadi disalah-salahkan begini, ia menjerit dalam hati.

Psikiater pelit senyum itu akhirnya mengakhiri dengan diagnosis. “Ya, sudah, Mbak. Saya kasih obat supaya enggak terlalu stres.” Akhirnya, sebuah senyuman tersungging di bibir. “Datang lagi, ya, bulan depan.” 

Nyebelin. Bisa-bisanya menyuruh balik.

“Mbak.” Suara ramah membawa pikirannya kembali. 

Dokter memindahkan sehelai rambut ke belakang telinganya. Potongan rambut barunya masih terasa asing di wajah. Hari ini seperti biasa ia mengenakan celana panjang palazzo hitam. Kemeja lengan panjang putih digulung mencapai kedua siku. Giwang emas sederhana dan kalung berliontin memberikan sentuhan manis yang tak pernah berlebihan.  

“Iya, intinya kelakuan mereka jadi makin brutal. Saudara tiriku terlalu dimanja sampai jadi orang pemalas. Akhirnya aku yang disuruh-suruh seenaknya. Mereka seperti mau mengintimidasi dan mengontrol aku, Dokter,” jelas perempuan muda itu.

“Mbak pikir, kenapa ibu dan saudara tiri bersikap seperti itu?”

Pasiennya terdengar kesal. “Mereka hanya tertarik dengan harta ayah, Dokter. Antipati dengan aku. Terutama saudara tiriku. Dia iri. Pasti karena itu!” 

Masalah pasien ini bermula sejak ayah kandungnya meninggal. Sejak itu ia yakin ibu dan saudara tirinya berubah menjadi iri hati dan membuat mereka merasa sah berlaku semena-mena. Bentakan jadi menu harian. Salah menjawab langsung ditegur, tak menjawab pasti diomeli. 

Tak hanya itu, meskipun ada pembantu di rumah mereka, entah mengapa pasiennya yang selalu mengurus semuanya–membersihkan rumah, mencuci, memasak, berbelanja. Pembantu dilarang untuk menolong. Di titik inilah stresnya mulai mengakar.

Kondisi mental itu berjalan cukup lama, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berkonsultasi di klinik. Saat ayah kandung pasiennya masih hidup, ibu dan saudara tiri selalu bersikap sangat baik. Tak pernah sekali pun mereka berkata kasar atau menyuruh mengerjakan ini-itu di rumah. 

“Selain iri, mereka juga serakah. Tetangga kami pernah membagi panen buah labu–yang, omong-omong, Dokter, ukurannya bisa bikin iri petani buah. Ibu dan saudaraku bukannya berterima kasih, malah minta lebih. Mereka yang biasanya enggak mau dekat-dekat dapur, tiba-tiba memaksa meminta pisau yang aku pegang.” Perempuan muda itu berkata sambil memandang langit-langit. 

“Enggak disangka, isinya penuh ulat-ulat kecil. Kebayang, ‘kan, reaksi mereka? Pelajaran untuk orang tamak.”

Setelah puas dengan catatannya, dokter kemudian melirik jam tangan yang sengaja selipkannya di dalam buku.

“Baik, Mbak Bawang Putih. Terapi hari ini selesai. Sampai ketemu lagi, kalau begitu.”

Diam sesaat, psikolog itu menambahkan, “Semoga di sesi berikutnya perilaku ibu dan saudara tiri ada perubahan.”

Baca juga: Hari Terbaik Untukmu : Kumpulan Puisi Amanda

Bawang Putih segera beranjak ke kamar kecil untuk merapikan dandanannya. Ia melewati lorong yang membawanya menuju pintu keluar yang terpisah dengan pintu masuk.

Dokter mendengar bunyi ketukan tepat ketika ia selesai menyiapkan catatan terapi pasien berikutnya.

Keramahan seketika memenuhi ruangan saat dokter menyapa hangat, “Mbak Bawang Merah, Ibu, apa kabarnya hari ini?” 

Perhatian dokter terarah pada Bawang Merah. Ia langsung berpikir, apa mbak satu ini menangis semalaman?

“Kelakuan Bawang Putih masih enggak berubah, Dokter. Masih terus mem-bully Bawang Merah,” cetus Ibu begitu mereka duduk di sofa panjang. 

Bawang Merah terlihat menarik lembar demi lembar tisu dari kotak kecil di atas meja. Bunyi nyaring yang keluar saat pemilik mata sembab itu membuang ingusnya terdengar bagai protes ketidakadilan yang ia terima.

Editor: KruBisa

Sobat BiSa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *