Cahaya: Kumpulan Puisi M Khudloifi Ghifrillah

puisi cahaya
Sumber: canva.com

Penulis: M. Khudloifi Ghifrillah

Keadilan 

Di balik tirai besi yang kelabu,

Hukum menjelma upeti 

Ia bukan lagi mata pisau yang lurus,

Melainkan tamsil usang yang digerus rakus.

Hanya mereka, sang aristokrat jemawa,

Menggenggam segalanya di atas takhta nyawa.

Keadilan bertukar rupa menjadi mistis,

Sesuatu yang gaib dan penuh intrik.

Keadilan tak lagi memeluk sembarang jiwa,

Ia hanya bertekuk lutut pada titah sang penguasa.

Baca juga: Pondok Inspirasi : Kumpulan Puisi Kerry Dagur

Hakiki 

Di bawah atap yang kusut

Dinding keadilan yang hakiki bukan tentang palu yang menggerung

Bukan pula jubah hitam yang bernyanyi di atas altar,

Atau timbangan besi yang goyah saat uang kertas beterbangan di balik saku kemeja

Ia adalah mata air di puncak gunung yang sunyi,

Mengalir bening, membasuh luka bumi yang disembunyikan

Tak butuh cermin retak untuk berkaca pada kasta,

Sebab ia memeluk pagi dan malam di ruang dekap yang sama.

Ia tak bersuara dalam gemuruh sorak yang jumawa,

Tapi berbisik lirih sebagai lentera di dada setiap jiwa.

Cahaya 

Ketika hukum dunia kerap berjalan pincang dan lumpuh,

Jiwa jelata meratap dan menatap langit

Mencari sebersit embun pagi di tengah besi yang menjepit.

Harapan itu bukan sekadar lilin yang mudah mati,

Melainkan bara yang bersembunyi di balik mati suri.

Menolak tunduk pada tirani, menolak diam dalam kegelapan

Sebab keadilan sejati adalah matahari yang tak pernah ingkar

Baca juga: Mati Sebagai Diri : Kumpulan Puisi Amanda

Di Balik Abu, Matahari Menunggu

Pernah kutitipkan musim pada langit yang enggan membuka mata,

hingga langkah-langkahku menjelma ranting patah

di halaman waktu yang kehilangan nama.

Malam menenun selimut dari jelaga,

membungkus dadaku dengan bisu,

sementara mimpi-mimpi menjadi burung

yang lupa arah pulang.

Lalu fajar mengetuk pelan

dengan jemari cahaya.

Ia tidak mengangkatku,

hanya mengajarkan bahwa akar

selalu menemukan jalan

meski dipeluk tanah paling gelap.

Kini kupakai luka sebagai sayap,

kupintal kecewa menjadi jembatan,

dan kutanam harapan

di ladang yang dahulu ditumbuhi putus asa.

Editor: Kru BiSa

Sobat BiSa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *