Matsuri

matsuri
Sumber: unplash.com/mos design

Penulis: May Wagiman

Sinar matahari pagi, seperti gagang pengungkit, membuka paksa kelopak matanya. Ia melayang bebas di depan jendela dapur, hanya ditopang oleh seutas benang tipis. Semalaman bergelantung ala mission impossible membuat kaki-kakinya kesemutan. Seperti biasa ia melakukan peregangan sebelum beranjak naik. 

Begitu menginjak kusen jendela, ia berjalan menuju sudut langit-langit dengan cepat. Setapak demi setapak mengelilingi jejaring sutra.

Dari posisinya di atas, ia memperhatikan satu tangan berhias arloji besar menggeser kaca jendela. Hembusan angin yang masuk membuatnya mencengkeramkan kuku-kukunya lebih kuat. Badannya bergoyang mengikuti gerakan anyaman jaring. 

Pemakai arloji itu meraih celemek biru. Jari-jarinya mengikat cepat tali di belakang punggung, sementara matanya tertuju pada taman kecil di samping rumah. Tak berapa lama manusia tinggi bercelana training berjalan mendekati. Mata setengah mengantuk menempel pada wajahnya. 

“Mana kari untuk matsuri?” Suaranya agak serak. Sisa flu berat seminggu lalu masih belum pulih benar.

“Di dalam kulkas. Nanti aku panaskan dulu,” Manusia yang diajak bicara masih terus memandang keluar. 

Gantungan lampion warna-warni telah terpasang sejak dua hari lalu. Meja-meja tempat makanan telah tersusun rapi.

Senyuman sinis tersungging. “Jam berapa kita harus ada di sana?” Pemilik arloji besar itu ganti bertanya. 

Bulan Agustus selalu menjadi pilihan untuk acara matsuri1. Penduduk sekitar menyediakan makanan sendiri untuk meramaikan festival musim panas. Di kota tempat tinggalnya, berbeda dengan kota besar, masih mengandalkan gotong royong. 

Tugas itu meskipun menyebalkan, ia terima. Lebih tepatnya, harus ia terima. Wajahnya tak menunjukkan reaksi apa pun ketika tetangganya menyerahkan pamflet acara. Ia hanya mengangguk sopan sambil dalam hati menggerutu tak henti. Gerutu yang sayangnya cuma bisa ditujukan pada dirinya sendiri. 

“Pokoknya jam sepuluh harus sudah siap di sana. Acara mulai setengah sebelas.” Suara serak menjawab. 

“Aku ganti baju dulu,” katanya kemudian.

Orang yang diajak bicara hanya diam. Senyuman sinis kembali muncul. Mata masih memandang keluar. Jangan sampai terlambat kalau tak mau dikomentari, ia membatin. 

Si kaki delapan masih mengamati dari sudut langit-langit. Sosok yang berdiri di dekat jendela itu melangkah ke arah meja. Piring dan sendok plastik dimasukkannya ke dalam kardus besar. Irama tubuhnya terlihat otomatis, nyaris seperti gerakan robot. Air mukanya lurus, namun, si kaki delapan merasa–dari intuisi hewaninya–seperti ada yang mengganggu pikiran manusia satu itu. Apakah keresahan itu akan berubah wujud menjadi luapan emosi, si kaki delapan hanya bisa menunggu.

Sudah hampir dua bulan makhluk kecil itu memperhatikan satu pola yang sama: perubahan emosi yang seperti pendulum, berayun dari satu sisi ekstrem ke sisi ekstrem yang lain. 

Suatu ketika, manusia itu meledak. Amarahnya tampak tak bisa tertahankan lagi. Namun sesaat kemudian, ia bersenandung kecil. Rasa marah yang muncul sebelumnya bagaikan mimpi, hilang begitu saja. 

Namun sebaliknya, pasangannya tak begitu banyak bercakap. Tak begitu menanggapi naik turun mood ekstrem itu. Tabiat mereka sejauh langit dan bumi. Masalah yang ada hampir tak pernah dibicarakan. Semuanya disapu masuk ke bawah hamparan karpet khayalan. 

Si kaki delapan teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Ia melihat si pemakai celemek biru berteriak histeris. Dengan suara gemetar manusia itu berseru, “Aku muak. Gosip di mana-mana. Kenapa kita harus pindah ke tempat begini!” 

Sumpah serapah mengikuti seruannya, sebelum akhirnya ia tertawa tak terkontrol. Pasangannya hanya menyodorkan minuman panas. “Teh manis dulu. Bikin kamu tenang,” 

Ingatan itu terhenti saat matanya tertuju pada panci besar. Manusia berarloji itu sedang mengaduk pelan, pandangannya masih sesekali terarah ke taman. Si kaki delapan menelusuri dinding dengan hati-hati, tak mau terlalu dekat dengan kompor. Di dalam dapur udara lembap bercampur rata dengan aroma kari. 

Ia memperhatikan dari arah samping. Satu tangan menyusup ke dalam saku celemek. Botol kaca terlihat menyusut di telapak tangan manusia itu.

Sekonyong-konyong pemakai celemek biru berpaling, kepalanya bergerak paksa ke samping. 

“Hmm, apa?” 

“Tisu. Jangan lupa,” Suara serak mengingatkan.

“Sudah ada di kardus. Kita keluar jam 9.45,” Tangannya sudah kembali sibuk mengaduk.  

Sementara itu, si makhluk kecil sudah mengambang di depan jendela. Badannya mendarat mulus di atas rumput. Perlahan kaki-kakinya berjalan menuju ke arah pusat acara.

Baca juga: Mati Sebagai Diri : Kumpulan Puisi Amanda

***

Pemandangan di hadapannya bagaikan kapal pecah. Tiga manusia terkapar tak sadarkan diri. Sementara yang masih sadar lunglai bersandar di bangku taman. Genangan muntah membentuk kubangan kekuningan di sana sini. Tangisan bocah disertai lolongan ratap orang tua menambah kepanikan suasana. 

Kekacauan itu terlihat sangat mengenaskan berlatar belakang gantungan lampion berwarna cerah. Yakisoba, takoyaki, kari, dan makanan lain seolah tak pantas berada di antara tragedi yang terjadi. Baskom besar berisikan koi merah terlantar begitu saja. Jaring-jaring kertas berserakan di sekitarnya. Kemeriahan festival terhenti paksa oleh erangan kesakitan dan suara sirene mobil ambulans. 

Dari spineret-nya benang halus keluar memanjang, si kaki delapan meluncur turun dari atas daun. Gerakannya ringan, tetapi cepat. 

Polisi memeriksa saksi-saksi, berusaha mengumpulkan bukti sebanyak mungkin. Tim forensik sibuk mengecek sidik jari, mengambil foto; mereka berusaha keras menjaga integritas TKP. 

Petugas medis lalu lalang menangani manusia yang tak beruntung. Satu ambulans bergerak cepat melarikan korban untuk penanganan lebih intensif. 

Si kaki delapan hampir menjadi salah satu korban kalau ia tak segera menghindar, melayang ke ujung bangku. Dua ibu muda dan satu bocah kecil menghempaskan tubuh mereka di tempat ia bertengger. 

Satu ibu bertanya dengan suara agak gemetar, “Takagawa-san makan apa?”

“Cuma yakisoba,” sahut Sakura Takagawa dengan suara tak yakin. 

Ia memegang kepala anak laki-lakinya. “Ken, kau makan apa?” 

Wajah bocah itu pucat. Tak jelas entah karena kaget atau rasa bersalah. 

“Sama. Cuma itu, kok, Bu,” jawabnya pelan sambil menghindari tatapan ibunya.

Makhluk kecil itu merangkak pergi dari ujung bangku, berjalan hati-hati di atas rumput. 

Tanpa peringatan, ia melompat, menghindari cairan kuning yang hampir menenggelamkannya. 

Di dekatnya satu bapak menopang tubuh anak perempuannya. Wajah Naomi Mori pucat, peluh menetes dari kedua pelipis. Keningnya bertaut menahan rasa nyeri. Ia membungkuk, lalu suara berat dari kerongkongannya pecah lagi, cairan kuning itu kembali mengalir, merembes di antara bilah rumput. 

Kekalutan membuat manusia bergerak serampangan, tak peduli apa yang mereka injak. Si kaki delapan melompat dan berjalan tergesa menuju rumah.  

Hari-hari berikutnya gema kejadian masih bergaung panjang, terus dibicarakan. Kali ini, lewat layar televisi.

Di dalam rumah, dua penghuninya setia mengikuti berita. Kasus keracunan itu sampai menggegerkan warga di luar kota kecil mereka. Stasiun televisi menyiarkan acara yang sama, dengan format penyajian yang hampir serupa. 

Pembawa acara mewawancarai para pihak dengan berbagai keahlian–mulai dari pakar kriminologi, mantan aparat kepolisian, hingga psikolog untuk membantu menganalisis motif di balik kemalangan yang merenggut empat jiwa. 

Sementara, kota kecil itu mendadak menjadi penuh dengan para ahli versi lain. Bisik-bisik yang keluar terdengar lebih tajam daripada bukti. Rumor dan fakta bercampur simpang siur. Di belakang keramahan sehari-hari, tetangga saling menuding. 

Si kaki delapan memutuskan untuk pindah. Kota itu kini menjadi ramai. Manusia datang berbondong-bondong, entah karena rasa penasaran atau sekadar mencari konten pemicu sensasi. 

Reporter dari berbagai media hilir mudik di depan kamera–mikrofon di tangan, mencoba mengemas sebuah musibah menjadi tontonan yang layak jual.

Polisi memutuskan memeriksa rumah-rumah di sekitar taman. Tim petugas berpakaian putih keluar masuk meneliti setiap sudut. Tak ada tempat aman lagi bagi sarangnya. 

Pada hari kepergiannya, ia bergelantung di depan jendela dapur. Manusia bercelemek biru itu berdiri di tempat yang sama, menatap taman yang kini kosong. Di sana, hanyalah lampion berwarna yang tersisa. Selebihnya garis barikade polisi memagari, diam-diam mengingatkan bahwa kasus itu belum usai. 

Baca juga: Pondok Inspirasi : Kumpulan Puisi Kerry Dagur

*****

Terinspirasi dari kasus keracunan yang terjadi di Wakayama, Jepang pada tanggal 25 Juli 1998. Isi cerpen dan semua tokohnya adalah fiktif.


1 Festival tradisional atau perayaan yang diselenggarakan masyararakat lokal sebagai bentuk rasa syukur, berdoa untuk keselamatan dan panen, serta menghormati lelulur di Jepang.

Editor: Kru BiSa

Sobat BiSa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *