Penulis: Aditiya Widodo Putra
Senja sepanjang Juni 1946 perlahan-lahan surut ke dalam pekatnya malam. Kota Surabaya terselimut dalam kegelapan malam, kecuali seberkas cahaya rembulan pucat yang menembus sela-sela mega tipis, menyinari jalanan aspal serta aliran Sungai Kalimas yang gelap gulita. Di sekitar kawasan Jembatan Merah hingga Gedung Internatio yang dikepung, dentuman meriam-meriam artileri berat menggema menggelegar.
Di berbagai sudut-sudut kota, letusan senapan mesin dan senapan lantak memecah keheningan malam secara bersahut-sahutan, bagaikan suara anjing yang melolong di tengah perkampungan sunyi. Pasukan pejuang Republik–laskar rakyat dan pemuda tentara–sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan serdadu pendudukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang diboncengi tentara sekutu (apati kolonial).
Di atas atap sebuah gedung tua bergaya kolonial di dekat kawasan Kembang Jepun, seorang pemuda penembak jitu dari kesatuan Laskar Sura di Bawah komando Polisi Tentara Republik Indonesia (PTRI) tengah berbaring mengintai. Di sebelah kanannya, tergeletak selaras senapan karaben peninggalan Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang dirawat telaten, dan di bahunya tersampir teropong medan militer. Wajahnya adalah rona seorang santri sekaligus pelajar madrasah yang tenang, tirus, dan bersahaja. Namun, sorot matanya memancarkan ketegasan kejam seorang pejuang sejati. Matanya tampak dalam dan penuh pemikiran. Cerminan mata seorang pemuda yang telah akrab dengan bayang-bayang maut demi kedaulatan tanah air.
Ia sedang memakan ketan pincuk gula jawa dengan lahap. Sejak pagi, ia belum sempat mengisi perutnya karena gelora pertempuran yang tak kunjung reda. Setelah habis, ia merogoh kantong rompinya, mengambil sebuah kendi kecil berisi jamu beras kencur hangat racikan ibunya. Pelipur dahaga sekaligus memulihkan tenaga. Ia meneguknya perlahan, lalu menyimpannya kembali di kendi.
Ia berhenti sejenak, menimbang-nimbang dalam hati apakah ia boleh menikmati sebatang rokok kretek buatan tangan bercengkeh khas Kudus. Tindakan itu amat berbahaya; bara api sekecil apa pun di kegelapan malam dapat menjadi sasaran empuk bagi mata-mata musuh di seberang. Namun, kelelahan merembes ke seluruh tubuh, dan ia memutuskan mengambil risiko itu.
Menyelipkan rokok kretek di bibirnya, ia menyalakan geretan, menghirup aroma cengkeh yang harum dalam-dalam secara kilat, lalu segera memadamkan apinya. Hampir bersamaan dengan itu, sebuah timah panas mendesis tajam dan memipih di dinding parapet (tembok penahan atap). Pemuda itu menarik napas rokoknya sekali lagi dengan tenang sebelum mematikan bara kreteknya. Ia mengucap istigfar pelan dalam hati, lalu merayap cepat menyusur atap ke sisi kiri.
Dengan sangat berhati-hati, ia mengangkat tubuhnya untuk mengintip lewat balik parapet. Semburat api menyala di kegelapan, disusul desingan peluru yang nyaris merobek peci hitamnya. Ia langsung menjatuhkan diri ke lantai beton. Ia telah menandai asal letupan itu—berasal dari lantai atas gedung pertokoan di seberang jalan raya.
Ia segera berguling di atas genting menuju cerobong asap di bagian belakang, lalu menarik tubuhnya secara perlahan hingga sepasang matanya sejajar dengan bibir parapet. Tidak ada yang tampak selain siluet gelap bangunan loji tua di seberang jalan berlatar langit malam kebiruan. Musuhnya piawai berlindung di balik benteng pertahanan beton.
Tak lama berselang, sebuah kendaraan taktis scout car lapis baja milik militer Belanda menderu dan melintasi jalanan di bawah, merayap pelan menyusuri aspal. Mobil itu berhenti tepat di seberang jalan, berjarak sekitar lima puluh meter di depan posisinya. Penembak jitu itu mendengar deru mesin diesel tua yang berputar berat. Jantungnya berdegup kencang. Itu kendaraan musuh. Ingin rasanya ia melepaskan tembakan. Namun, ia sadar peluru karabennya takkan mampu menembus baja tebal kendaraan militer tersebut.
Baca juga: Lanskap Kata yang Menolak Rubuh
Sesaat kemudian, muncullah seorang perempuan paruh baya pedagang jamu gendongan dari arah tikungan gang sempit. Perempuan itu mengenakan kebaya kumuh dan kain jarik batik luruh. Ia berhenti di dekat kubah kendaraan lapis baja, tampak berbicara kepada serdadu di dalam jip lapis baja tersebut sambil mengacungkan telunjuknya ke arah atap tempat sang penembak jitu bersembunyi. Seorang pengkhianat bangsa yang menjadi mata-mata musuh (informan bayaran NICA).
Kubah kendaraan terbuka. Kepala dan bahu seorang serdadu Belanda muncul, mengawasi ke arah atap. Tanpa ragu, pemuda itu membidik dan menarik pelatuk. Letupan senapan memecah malam; kepala serdadu itu terkulai lemas membentur tepi lambung kendaraan. Perempuan tua pengkhianat itu panik dan berlari pontang-panting menuju gang. Sang penembak jitu kembali menarik pelatuk. Perempuan itu berputar sejenak sebelum jatuh tersungkur ke dalam saluran air trotoar.
Seketika itu pula, dari atap gedung seberang, sebuah peluru menyalak garang. Pemuda itu menjatuhkan senapannya sambil meringis menahan perih. Senapan karabennya berdenting keras membentur genting. Ia mengira suara itu bakal terdengar hingga ke penjuru kampung. Ia membungkuk hendak memungut senapannya, namun tangan kanannya terkulai lemas tanpa daya. “Allah susahnya, aku kena,” gumamnya lirih.
Ia segera merebahkan diri rata di atas atap, merayap mundur ke balik parapet. Dengan tangan kirinya yang masih berfungsi normal, ia meraba lengan baju sebelah kanan. Darah hangat merembes membasahi kain seragamnya. Tidak ada rasa sakit yang teramat sangat pada mulanya—hanya sensasi tebal dan kaku, seolah lengan itu terlepas dari sendinya.
Dengan sigap ia merogoh saku, mengeluarkan pisau lipat kecil, dan merobek kain lengan bajunya di atas undakan tembok. Tampak sebuah lubang kecil bekas tikaman timah panas. Di sisi sebaliknya tidak ada lubang keluar; peluru bersarang di dalam tulang lengannya, menyebabkan patah tulang tertua. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat menahan gelombang linu yang mendera tatkala ia mencoba menggerakkan tangannya.
Lalu ia mengambil kantong kotak pertolongan pertama lapangan, merobek bungkusnya, dan mengeluarkan cairan antiseptik rivanol serta perban steril. Ia meneteskan cairan obat itu ke dalam luka menganga. Sontak, gelombang rasa sakit yang teramat sangat menusuk hingga ke kepala. Ia mendesis tertahan, menaruh kapas pembalut, lalu melilitkan perban erat-erat dan menggigit ujungnya menggunakan gigi untuk mengencangkannya.
Ia berbaring tenang merapat ke dinding parapet, memejamkan mata, dan melafalkan zikir di dalam hati untuk menenangkan jiwa serta meredam rasa sakit yang membakar.
Di jalanan bawah, situasi berangsur senyap. Kendaraan lapis baja tadi telah bergegas mundur meninggalkan lokasi dengan tubuh serdadu yang tergantung tak bernyawa di kemudiannya. Sementara di selokan jalan, tubuh perempuan malang itu terbujur kaku.
Pemuda itu berbaring cukup lama sambil memijat pelan lengannya yang cedera, memutar otak merancang siasat meloloskan diri. Menjelang fajar, ia tidak boleh tertangkap dalam keadaan terluka di atas atap ini. Penembak jitu musuh di seberang jalan mengunci jalur pelariannya. Ia harus melumpuhkan musuh itu, namun ia tak lagi bisa menggunakan senapan laras panjangnya. Ia hanya memiliki sebuah pistol genggam Nambu rampasan perang. Ia pun merancang sebuah tipu muslihat cerdik.
Ia melepas peci hitam beremblem merah putih miliknya, lalu memasangnya di ujung laras senapan karaben. Secara perlahan, ia mendorong senapan itu ke atas melewati batas parapet hingga pecinya terlihat jelas dari gedung seberang. Seketika itu pula, sebuah letupan membahana, dan peluru musuh tepat menembus bagian tengah peci tersebut. Pemuda itu lantas memiringkan senapannya seolah tertembak mati. Ia sengaja melepaskan genggaman tangan kirinya hingga senapan itu melorot jatuh ke trotoar jalan di bawah, disusul lemasnya tangan kirinya yang dibiarkan menggantung seolah mayat.
Sesaat kemudian, ia menarik kembali tangannya dan merayap bangkit dengan sigap. Siasatnya membuahkan hasil. Penembak jitu musuh di seberang, mengira lawannya telah tewas, kini berdiri tegak di dekat deretan cerobong asap tanpa perlindungan, dengan kepala yang tersirat jelas berlatar langit malam bagian barat.
Pemuda laskar itu menarik napas, mengangkat pistolnya di atas tepian parapet. Jaraknya sekitar lima puluh meter—sebuah bidikan yang teramat sulit dalam keremangan malam, ditambah tangan kanannya yang masih berdenyut nyeri luar biasa. Ia membidik dengan napas tertahan. Jemarinya bergetar hebat karena tegang. Ia memejamkan mata sejenak, bertawakal, lalu menarik pelatuk. Dentuman pistol menggema keras, tangannya tersentak ke belakang akibat daya tolak senjata.
Ketika kepulan asap tipis menipis, ia mengintip ke seberang dan mendapati musuhnya terhuyung-huyung. Penembak jitu musuh itu tampak sekarat, mencengkeram parapet sebelum akhirnya tubuhnya kehilangan keseimbangan. Sosok itu terjungkal ke depan, membentur papan reklame toko di lantai bawah sebelum akhirnya menghantam aspal jalan dengan suara gedebuk yang berat dan senyap.
Baca juga: Sesi Terapi untuk Sebuah Dongeng
Melihat musuhnya tewas mengenaskan di hadapannya, pemuda itu mendadak bergidik ngeri. Kobaran semangat tempur yang tadinya membara seketika padam, berganti oleh rasa penyesalan yang mendalam. Keringat dingin membasahi keningnya. Kelelahan fisik akibat seharian berpuasa, menahan lapar, serta tegangnya pertempuran membuatnya merasa mual melihat pemandangan di seberang. Giginya bergemeletuk, ia merutuki diri sendiri, mengutuk kekejaman perang dan pendudukan yang memecah belah anak bangsa.
Ia menatap pistol yang masih mengepulkan asap di genggamannya, lalu dengan gerakan emosional ia melemparkan senjata itu ke lantai atap. Tragisnya, pistol itu membentur lantai dan meletus secara tidak sengaja; pelurunya mendesing nyaris merenggut nyawanya sendiri. Letupan mengejutkan itu justru menyadarkannya kembali. Sarafnya kembali stabil, rasa takutnya menguap, dan ia menghela napas panjang.
Ia kembali meneguk sisa jamu beras kencur hangat dari kendi kecilnya untuk memulihkan kesegaran tubuhnya. Di bawah pengaruh kehangatan rempah tradisional nusantara itu, keberaniannya pulih kembali. Ia memutuskan untuk segera meninggalkan atap gedung tersebut guna mencari komandan kompi laskar rakyat dan melaporkan hasil pos pantau. Suasana sekitar mulai lengang. Ia memungut kembali pistolnya, menyelipkannya ke pinggang, lalu merayap turun melalui lubang loteng menuju bagian dalam bangunan.
Setibanya di lantai bawah yang temaram, hatinya tiba-tiba diliputi rasa penasaran yang kuat mengenai siapa sosok penembak jitu musuh tangguh yang baru saja ia taklukkan. Ia mengakui dalam hati bahwa orang itu memiliki keahlian tembak yang luar biasa. Timbul pertanyaan di benaknya: Apakah ia mengenal sosok itu? Mengingat kekacauan situasi politik dan perpecahan kubu yang terjadi sebelum pertempuran, ia merasa harus memastikan identitasnya. Ia memutuskan mengambil risiko sesaat untuk menyeberang jalan.
Ia mengintip dari balik sudut pilar gedung ke arah jalan raya. Suasana di sekitar kian senyap. Dengan gerakan kilat, pemuda itu berlari melintasi jalanan beraspal. Sekonyong-konyong sebuah senapan mesin dari arah benteng musuh memuntahkan timah panas menyapu tanah di sekitarnya, namun ia berhasil lolos dengan melompat tiarap di samping jenazah musuhnya yang tergeletak di trotoar. Rentetan tembakan pun berhenti.
Dengan tangan kirinya, pemuda itu perlahan membalikkan tubuh mayat penembak jitu musuh tersebut, menyingkirkan topi bajunya, dan menatap lurus ke dalam wajah sosok yang terbujur kaku itu—ternyata ia adalah kakak kandungnya sendiri, yang sejak awal revolusi bergabung dengan pasukan berbeda akibat perbedaan haluan politik.
Editor: Kru BiSa



