Minggu Depan, Siapa Petugas Upacara? Kumpulan Puisi Ulfahranda

puisi minggu depan siapa petugas upacara
Sumber: flickr.com/emastery

Penulis: Ulfahranda

Di Tepi Jendela yang Terbuka

Di tepi jendela yang terbuka 

Gemercik hujan bertandang sendiri 

seolah memberi tanda, bahwa 

takdir masih dibiarkan mengulang waktu. 

Terus berdetak di permukaan kaca, 

berembun.

Mendungnya langit adalah perjanjian duka.

Meski telah berjatuhan airnya, 

rindu belum juga bertemu tenggatnya.

Tidak ada yang berani beranjak 

entah itu hujan atau sekedar menutup jendela

Di tengah kegaduhan suara rintiknya,

dingin menjelma selembar selimut,

menimang mata yang kian berat terlelap

Deli Serdang,  September 2026

Memeluk Hujan

Awan-awan mengabu menghitam seolah tahu 

langit tak lagi mampu menampung beban, 

pagi atau malam, derasnya tak bisa disogok sekadar kata maaf.

Katanya bumi mulai menyerahkan dahaganya, 

asal kau tahu, mendung telah mematahkan petir di dadanya 

agar gemuruh berhenti menuntut jawaban.

Kini air dan tanah saling berpelukan, 

membuat angin dan badai tertegun menyaksikan rindu 

yang hanya singgah sebagai basah,

hanya berujung melukai jejak.

Hujan surut, membiarkan daun membenci bekas tetesnya. 

Dan dinginnya tampak mencengkeram bumi dengan kokoh, 

ia menguap dan sebentar lagi akan hilang.

Mereka tidak benar-benar jatuh karena benci, 

melainkan menyerah pada gravitasi yang berselisih. 

Sengaja membagi basah pada tanah yang berbeda, 

meski tahu, pada akhirnya harus membuang separuh dirinya.

Deli Serdang, September 2026

Baca juga: Buku Teka-Teki Silang : Kumpulan Puisi Zikri Amanda

Pasal-Pasal Ruang Teduh

Pasal 1

langkah berat di pintu

membawa gemuruh di kalbu

​keheningan hangat menyambut

tanpa tanya yang menuntut

​Pasal 2

pintu dada terkunci rapat

suara halus tanpa debat

​cukup teh hangat dan teduh

saat dunianya perlahan keruh

​Pasal 3

usapan lembut di bahu kaku

meluruhkan beban yang membeku

​sesak pun luruh satu per satu

menjadi kata tanpa ragu

​Pasal 4

menerima adalah seni

menyediakan rumah di dalam sunyi

​ruang aman untuk hinggap

atau langkah yang pergi senyap

Deli Serdang,  Agustus 2026

Minggu Depan, Siapa Petugas Upacara?

Dulu, seseorang pernah meyakinkanku

bahwa kemerdekaan yang sejati akan selalu

menemukan cara untuk menghidupi siapa saja.

Kini, ketika aku berkaca pada seragam yang

mulai pudar warnanya,

ternyata aku tak lagi merayakan kebebasan,

melainkan sekadar merawat sebuah rutinitas

yang belum berani aku tinggalkan.

​Setiap Senin, jejak kaki ini menapak tanah yang sama,

dari celana merah sewaktu kecil

hingga kemeja putih kusam di usia tua.

Upacara usai, lagu selesai,

aku kembali ke papan tulis dan amplop gaji yang ringkih,

membeli beras dengan hitungan yang menggetarkan dada.

Di tengah riuh lagu kebangsaan yang bergema,

aku menunduk, menyerahkan diri pada Senin berikutnya,

lalu seseorang menoleh,

menatap mataku, dan memberikan sebuah pertanyaan

pelan

yang mengunci dalam lingkaran yang sama:

“Minggu depan siapa petugas upacara?”

Deli Serdang, Agustus 2026

Pusara Atas Sebuah Nama

di atas tanah,

sebuah nama diam

huruf-hurufnya mulai berlumut

angin lewat

tanpa membaca sehelai rumput

tumbuh di antara tanggal dan nama

batu nisan

menahan hujan

menyimpan apa yang tak perlu

disebut kembali

di sini

tak ada langkah yang perlu ditunggu

tak ada suara yang perlu dijawab

hanya tanah yang perlahan meratakan

segala sesuatu termasuk nama:Khai

Deli Serdang, Januari 2026

Jalan Tanpa Hambatan

Aspal terbentang jernih hingga ke ufuk, 

tanpa belokan, 

tanpa lampu penanda waktu. 

Roda melaju kencang meretas angin, 

tanpa halangan,

tanpa batas penggenggam jarak. 

Tak ada benteng yang menghalangi laju, 

tak ada garis yang melarang berbelok arah. 

Semua warna menyatu di bawah pijakan, 

memberi ruang bagi jemari,

untuk melukis takdirnya sendiri.

Tanpa sadar,

lintasan lurus ini terlampau sunyi, 

tanpa persimpangan,

tanpa rambu berhenti.

Ketika kecepatan tak lagi terkendali

tanpa arah,

tanpa tujuan yang pasti.

melaju cepat tanpa persinggahan.

Deli Serdang, Agustus 2026

Baca juga: Hari Terbaik Untukmu : Kumpulan Puisi Amanda

Di Hadapan Takdir yang Retak

Begitu memasuki mihrab,

Fajar ternyata telah menyusup 

lewat celah tirai,

menjejerkan keraguan di ambang pintu.

Di sudut ruang, bagian dari jalanmu telah menanti,

membawa hening yang perlahan menyapu

jejak-jejak lama di kepala.

Duka itu mungkin hanya serpihan kecil yang jatuh,

menyisakan sembilu yang sempat menetap di dada.

p   e   r   l   a   h   a   n  

kubalut perih tersebut,  

menjadikannya alasan untuk tetap bertahan  

di sisimu yang berserah,

sejak hembusan napas pertama di pagi hari.

hingga gelap kembali merapat ke dinding luar.

Kujaga tiap helaan itu.

Deli Serdang, September 2026

Editor: Kru BiSa

Sobat BiSa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *