Penulis: Ulfahranda
Di Tepi Jendela yang Terbuka
Di tepi jendela yang terbuka
Gemercik hujan bertandang sendiri
seolah memberi tanda, bahwa
takdir masih dibiarkan mengulang waktu.
Terus berdetak di permukaan kaca,
berembun.
Mendungnya langit adalah perjanjian duka.
Meski telah berjatuhan airnya,
rindu belum juga bertemu tenggatnya.
Tidak ada yang berani beranjak
entah itu hujan atau sekedar menutup jendela
Di tengah kegaduhan suara rintiknya,
dingin menjelma selembar selimut,
menimang mata yang kian berat terlelap
Deli Serdang, September 2026
Memeluk Hujan
Awan-awan mengabu menghitam seolah tahu
langit tak lagi mampu menampung beban,
pagi atau malam, derasnya tak bisa disogok sekadar kata maaf.
Katanya bumi mulai menyerahkan dahaganya,
asal kau tahu, mendung telah mematahkan petir di dadanya
agar gemuruh berhenti menuntut jawaban.
Kini air dan tanah saling berpelukan,
membuat angin dan badai tertegun menyaksikan rindu
yang hanya singgah sebagai basah,
hanya berujung melukai jejak.
Hujan surut, membiarkan daun membenci bekas tetesnya.
Dan dinginnya tampak mencengkeram bumi dengan kokoh,
ia menguap dan sebentar lagi akan hilang.
Mereka tidak benar-benar jatuh karena benci,
melainkan menyerah pada gravitasi yang berselisih.
Sengaja membagi basah pada tanah yang berbeda,
meski tahu, pada akhirnya harus membuang separuh dirinya.
Deli Serdang, September 2026
Baca juga: Buku Teka-Teki Silang : Kumpulan Puisi Zikri Amanda
Pasal-Pasal Ruang Teduh
Pasal 1
langkah berat di pintu
membawa gemuruh di kalbu
keheningan hangat menyambut
tanpa tanya yang menuntut
Pasal 2
pintu dada terkunci rapat
suara halus tanpa debat
cukup teh hangat dan teduh
saat dunianya perlahan keruh
Pasal 3
usapan lembut di bahu kaku
meluruhkan beban yang membeku
sesak pun luruh satu per satu
menjadi kata tanpa ragu
Pasal 4
menerima adalah seni
menyediakan rumah di dalam sunyi
ruang aman untuk hinggap
atau langkah yang pergi senyap
Deli Serdang, Agustus 2026
Minggu Depan, Siapa Petugas Upacara?
Dulu, seseorang pernah meyakinkanku
bahwa kemerdekaan yang sejati akan selalu
menemukan cara untuk menghidupi siapa saja.
Kini, ketika aku berkaca pada seragam yang
mulai pudar warnanya,
ternyata aku tak lagi merayakan kebebasan,
melainkan sekadar merawat sebuah rutinitas
yang belum berani aku tinggalkan.
Setiap Senin, jejak kaki ini menapak tanah yang sama,
dari celana merah sewaktu kecil
hingga kemeja putih kusam di usia tua.
Upacara usai, lagu selesai,
aku kembali ke papan tulis dan amplop gaji yang ringkih,
membeli beras dengan hitungan yang menggetarkan dada.
Di tengah riuh lagu kebangsaan yang bergema,
aku menunduk, menyerahkan diri pada Senin berikutnya,
lalu seseorang menoleh,
menatap mataku, dan memberikan sebuah pertanyaan
pelan
yang mengunci dalam lingkaran yang sama:
“Minggu depan siapa petugas upacara?”
Deli Serdang, Agustus 2026
Pusara Atas Sebuah Nama
di atas tanah,
sebuah nama diam
huruf-hurufnya mulai berlumut
angin lewat
tanpa membaca sehelai rumput
tumbuh di antara tanggal dan nama
batu nisan
menahan hujan
menyimpan apa yang tak perlu
disebut kembali
di sini
tak ada langkah yang perlu ditunggu
tak ada suara yang perlu dijawab
hanya tanah yang perlahan meratakan
segala sesuatu termasuk nama:Khai
Deli Serdang, Januari 2026
Jalan Tanpa Hambatan
Aspal terbentang jernih hingga ke ufuk,
tanpa belokan,
tanpa lampu penanda waktu.
Roda melaju kencang meretas angin,
tanpa halangan,
tanpa batas penggenggam jarak.
Tak ada benteng yang menghalangi laju,
tak ada garis yang melarang berbelok arah.
Semua warna menyatu di bawah pijakan,
memberi ruang bagi jemari,
untuk melukis takdirnya sendiri.
Tanpa sadar,
lintasan lurus ini terlampau sunyi,
tanpa persimpangan,
tanpa rambu berhenti.
Ketika kecepatan tak lagi terkendali
tanpa arah,
tanpa tujuan yang pasti.
melaju cepat tanpa persinggahan.
Deli Serdang, Agustus 2026
Baca juga: Hari Terbaik Untukmu : Kumpulan Puisi Amanda
Di Hadapan Takdir yang Retak
Begitu memasuki mihrab,
Fajar ternyata telah menyusup
lewat celah tirai,
menjejerkan keraguan di ambang pintu.
Di sudut ruang, bagian dari jalanmu telah menanti,
membawa hening yang perlahan menyapu
jejak-jejak lama di kepala.
Duka itu mungkin hanya serpihan kecil yang jatuh,
menyisakan sembilu yang sempat menetap di dada.
p e r l a h a n
kubalut perih tersebut,
menjadikannya alasan untuk tetap bertahan
di sisimu yang berserah,
sejak hembusan napas pertama di pagi hari.
hingga gelap kembali merapat ke dinding luar.
Kujaga tiap helaan itu.
Deli Serdang, September 2026
Editor: Kru BiSa



