Penulis: Lestari Pria Astuti
BILIK SASTRA – Pementasan teater Bunga Penutup Abad kembali menghiasi panggung teater Indonesia pada tahun 2025 dengan membawakan karya adaptasi novel Pramoedya Ananta Toer oleh deretan aktor terbaik Indonesia.
Mulai dari Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Andrew Trigg sebagai Jean Marais, dan Sajani Arifin sebagai May Marais.
Penasaran seperti apa keseruan pementasan teater tersebut? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Mengenang warisan karya Pramoedya Ananta Toer

Pementasan teater Bunga Penutup Abad merupakan persembahan dalam mengenang sepuluh tahun meninggalnya Pramoedya, sekaligus merayakan warisan sastra Indonesia yang monumental.
Bunga Penutup Abad sejatinya adalah alih wahana refleksi sosial-politik di masa kolonial dari tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Mulai dari Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), hingga yang terakhir Rumah Kaca (1988).
Happy Salma menjanjikan pembaruan signifikan dengan beberapa adegan yang dipersingkat, set panggung serta tata artistik, bahkan musik latar diganti untuk memberikan pengalaman yang lebih segar bagi penonton.
Pementasan ini digelar pada 29, 30, dan 31 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, Jakarta, dengan pendekatan visual yang artistik. Penonton bisa menikmati tata panggung, kostum, dan pencahayaan yang detail dan cita rasa tinggi.
Baca juga: Melihat Sastra Indonesia dari Kacamata Gen Z
Deretan pemain bintang dalam teater Bunga Penutup Abad

Salah satu daya tarik utama dari pementasan teater Bunga Penutup Abad adalah deretan bintang papan atas Indonesia yang tampil. Nama-nama aktor senior yang sudah lama berkecimpung dalam seni pemeranan tampil memukau. Berikut beberapa aktor utama yang mencuri perhatian penonton.
1. Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh
Happy Salma tidak hanya berperan sebagai pengisi peran Nyai Ontosoroh, tetapi juga bertindak sebagai produser pertunjukan ini. Karakter Nyai Ontosoroh merupakan salah satu tokoh paling ikonik dalam karya Pramoedya. Ia merupakan seorang perempuan pribumi yang kuat, cerdas, dan penuh dignitas di tengah kolonialisme.
Akting Happy Salma dan rekan-rekannya tampil gemilang dengan ekspresi yang kuat dan penjiwaan mendalam, menghadirkan pengalaman menonton yang nyaris sinematik.
2. Reza Rahadian sebagai Minke
Aktor kawakan Reza Rahadian memerankan tokoh sentral Minke, seorang pribumi berpendidikan yang menjadi jurnalis dan penulis. Kehadiran Reza dalam produksi ini menambah bobot dramatik dengan kemampuan aktingnya yang sudah teruji di berbagai medium.
3. Chelsea Islan sebagai Annelies
Chelsea Islan membawakan karakter Annelies Mellema, putri Indo-Belanda yang menjadi kekasih Minke. Peran ini menuntut kedalaman emosi yang tinggi, menggambarkan karakter yang rapuh namun penuh kasih.
4. Andrew Trigg sebagai Jean Marais
Andrew Trigg memerankan Jean Marais, tokoh yang membawa dinamika tersendiri dalam alur cerita dengan latar belakang Eropa dan keterlibatannya dalam narasi pergerakan.
5. Sajani Arifin sebagai May Marais
Sajani Arifin mengisi peran May Marais, menambah kompleksitas relasi antar karakter dalam pertunjukan ini.
Baca juga: Sastra Klasik dan Sastra Modern, Apa Bedanya?
Para aktor mampu membawa sinergi positif di atas panggung
Kekuatan pementasan ini terletak pada chemistry dan kemampuan akting para pemainnya yang ciamik. Kombinasi antara Happy Salma, Reza Rahadian, dan Chelsea Islan yang ketiganya memiliki pengalaman luas di film dan teater, bersama Andrew Trigg dan Sajani Arifin, menciptakan harmoni pertunjukan yang memukau.
Para aktor ini tidak hanya membawakan dialog dengan baik, tetapi juga mampu menghidupkan kompleksitas karakter-karakter ciptaan Pramoedya yang sarat dengan pergulatan identitas, cinta, dan perlawanan terhadap ketidakadilan kolonialisme.
Pementasan Bunga Penutup Abad 2025 membuktikan bahwa teater Indonesia mampu menghadirkan produksi berkelas internasional dengan menggabungkan aktor-aktor terbaik, naskah sastra berkualitas tinggi, dan produksi yang memperhatikan detail.
Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa karya-karya sastra Indonesia klasik tetap relevan dan dapat diadaptasi dengan segar untuk generasi kontemporer.
Editor: Kru BiSa



