Penulis: Dwi Scativana Isnaeni
Huruf b-u-r-u-n-g hanyalah barisan semut hitam yang mati kering di atas kertas buram—kaku, dingin, dan menolak bicara di telinga Pandu. Di atas permukaan meja kayu yang penuh goresan silet, buku tebal bersampul biru tua itu terbuka pada halaman dua belas, menampilkan gambar seekor burung pipit yang hinggap di dahan kamboja dengan tinta hitam yang kusam.
Pandu menatap kaki burung itu dengan sepasang mata bulatnya yang polos, tetapi barisan teks di bawahnya tetap membeku menjadi tumpukan garis kaku yang asing.
“Pandu, coba bunyi baris yang pertama. Pelan-pelan saja,” suara Linda terdengar sabar, menggantung di antara udara siang yang gerah, pengap, dan berdebu kering.
Pandu menggeleng tanpa mengangkat dagu. Ia menunduk rapat, menyembunyikan bibirnya yang membiru di balik kerah seragam yang pudar dan bau keringat matahari. Di dalam kepalanya, huruf-huruf itu mendadak melompat-lompat kacau, saling tindih seperti tumpukan batu bata yang runtuh setelah diguncang gempa.
Linda menarik napas panjang. Ia melirik lemari arsip di sudut kelas; di dalam laci seng yang berkarat, berkas laporan evaluasi belajar dari kantor kabupaten menumpuk kaku, penuh dengan tanda silang merah yang menandai ketidakberdayaan anak-anak di kelasnya.
Baca juga: Minggu Depan, Siapa Petugas Upacara? : Kumpulan Puisi Ulfahranda
Saban tahun orang-orang dari dinas datang membawa kertas ujian, mengukur kepala anak-anak petani ini dengan angka-angka mutlak, tanpa pernah mau tahu bahwa buku paket yang dikirim dari pusat sering kali datang dengan bahasa yang terlampau jauh dari lidah anak-anak kampung.
Linda menutup buku bersampul biru itu dengan satu ketukan tumpul yang sunyi. Ia merogoh tas kainnya, mengeluarkan sebongkah tanah liat basah yang ia gali dari tepi parit sawah belakang sekolah kemarin sore, lalu meletakkannya di atas meja Pandu.
“Jangan lihat bukunya lagi. Pegang ini,” bisik Linda pelan, tangannya yang kasar oleh sisa kapur tulis menggeser bongkahan tanah yang mengeluarkan aroma langu lumpur sawah itu. “Buat apa saja yang sering kamu lihat di sawah waktu ikut bapakmu.”
Jemari Pandu yang biasanya kaku dan gemetar setiap kali memegang pensil, perlahan menyentuh permukaan tanah liat yang dingin. Mula-mula ia hanya menekan-nekan ragu, leaving bekas lubang dalam dari ibu jarinya. Namun lambat laun, jemarinya bergerak lebih lincah. Ia memijit, memilin, dan meremas tanah itu dengan dahi yang berkerut tebal karena konsentrasi. Sepuluh menit kemudian, bongkahan itu telah berubah rupa menjadi bentuk seekor katak pohon yang gemuk dengan sepasang mata bulat menonjol kaku.
“Katak…” bisik Pandu, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh deru mesin traktor dari sawah seberang.
Linda menyodorkan sebatang tusuk gigi kayu yang patah ujungnya ke tangan Pandu. “Tulis namanya di punggung katak itu. Ikuti bentuk suaramu sendiri.”
Pandu menerima kayu kecil itu. Tangannya bergerak lambat, menggoreskan garis vertikal dan lengkung yang kaku di atas permukaan tanah liat yang basah. K-A-T-A-K. Kulit ujung jarinya kotor oleh lumpur hitam, tetapi matanya tidak lagi berkedip panik menatap huruf-huruf itu. Mereka tidak lagi melompat liar; mereka membeku di atas punggung katak buatannya sendiri.
Bel pulang sekolah akhirnya berdering parau dari arah selasar depan. Anak-anak lain merangsek keluar kelas dengan sorak-sorai yang bising, menyisakan debu lantai yang kembali melayang di antara berkas cahaya matahari sore. Pandu tidak ikut berlari. Ia memeluk katak tanah liatnya erat-erat di atas dada, lalu melangkah keluar membelah pintu kelas.
Baca juga: Sesi Terapi untuk Sebuah Dongeng
Linda meraih tas kainnya, memasukkan botol minum dan sisa kapur ke dalam sana, lalu menggeser kursi kayu meja gurunya merapat ke dinding. Ia melangkah keluar ruangan, menarik daun pintu kelas yang reyot itu, lalu mengaitkan gemboknya yang longgar hingga berbunyi denting besi yang tumpul.
Ia berjalan menyusuri selasar berdebu tanpa merogoh ponsel di saku bajunya yang terus bergetar kehabisan daya. Langkah sepatunya ketat menuju gerbang depan, menyusul barisan anak-anak yang mulai berjalan lambat di sepanjang jalan setapak pekarangan yang gersang.
Di dalam ruang kelas yang terkunci, sebuah buku paket bersampul biru tua ditinggalkan begitu saja di atas meja kayu, terbuka pada halaman bergambar burung pipit kesepian di bawah celah jendela yang buram.
Banjarnegara, 20 September 2026
Editor: Kru BiSa



